Metode DEDUKTIF dan INDUKTIF

1.             Penulisan Deduktif
o   Pengertian Paragraf Deduktif
Ada beberapa pengertian paragraf deduktif, tetapi meskipun begitusemuanya memiliki maksud yang sama. Ada beberapa pengertian dariparagraf deduktif, antara lain sebagai berikut:
·         Paragraf deduktif adalah paragraf yang memiliki  ide pokok ataukalimat utamanya di awal paragraf, kemudian diikuti olehkalimat-kalimat penjelas untuk mendukung kalimat utama.
·         Paragraf deduktif adalah paragraf yang  diawali dengan kalimat utamayang kemudian dilanjutkan dengan penjelasan khusus.
·         Paragraf deduktif adalah proses penalaran yang bertolak dariperistiwa-peristiwa yang sifatnya umum menuju pernyataan khusus.

o   Ciri-ciri Paragraf Deduktif
Ada beberapa ciri paragraf deduktif, antara lain sebagai berikut:
a.    Kalimat utama letaknya di awal paragraf.
b.    Kalimat disusun dari pernyataan umum yang kemudian disusul denganpenjelasan berupa pernyataan khusus.
c.    Diakhiri dengan penjelasan yang spesifik.

o   Contoh – contoh Paragraf Deduktif

A.    Contoh Paragraf Deduktif 1
Kawasan Betawi telah lama dihuni orang. Bahkan, jauh sebelum datangnyapenduduk berbahasa Melayu, yang baru tiba sekitar abad ke-10 M. Penghuni awal kawasan Betawi ini bisa dikatakan sebagai masyarakat“proto” Betawi. Kesimpulan tersebut berdasarkan ditemukannya situsBabelan, Bekasi, Karawang dan Subang yang berasal dari abad ke-2M. Menurut Prof. James T. Mc Collin, penemuan tersebut menandakan  masyarakat proto Betawi tersebut telah menghuni daerah di sekitar aliransungai besar, seperti Ciliwung, Cisadane, Kali Bekasi, danCitarum. Mereka diyakini telah tinggal di daerah yang kini dikenalsebagai Cengkareng, Sunter, Tanah Abang, Cilincing, Kebon Sirih,  RawaBelong, Sukabumi, Kebon Nanas, Jatinegara, Cawang, Cililitan, KramatJati, Condet, Kelapa Dua, Cipete, Pasar Minggu, Pondok Gede, LentengAgung, Tanjung Barat, Pasar Jumat, Karang Tengah, Ciputat, Pondok Cabe,Cipayung, dan Serpong. Jadi, penduduk proto Betawi tersebut telahmenyebar hampir di seluruh wilayah Jakarta.

B.     Contoh Paragraf Deduktif 2
Jangan pernah menyepelekan kemampuan marinir TNI AL. Kemampuan prajuritnya di lautan tak perlu diragukan lagi. Mereka telah dilatihuntuk dapat menyeberangi Selat Sunda selama 12 jam non stop melewatipusaran-pusaran arus yang sangat berbahaya. Pengakuan dari PanglimaArmada ke-7 militer AS  yaitu Laksamana Madya Scott van Buskirk padasaat latihan latihan militer bersama antara  kedua negara dalamCooperation Afloat Readiness and Training (CARAT) sebagai buktinya.  Iamengatakan Angkatan Laut AS justru masih harus belajar operasi militerdi laut dari pasukan Marinir Indonesia. Selain pasukan Marinir dinilai memiliki banyak pengalaman dalam melaksanakan patroli dan operasiantiperompakan di perairan tersibuk di dunia seperti Selat Malaka.

o   Pengertian Dasar Deduktif
Deduktif adalah cara berpikir di mana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penalaran deduktif merupakan prosedur yang berpangkal padasuatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus.
Corak berpikir deduktif adalah silogisme kategorial, silogisme hipotesis, silogisme alternatif dan entinem. Dalam penalaran ini tedapat premis, yaitu proposisi tempat menarik kesimpulan. Untuk penarikan kesimpulannya dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Penarikan kesimpulan secara langsung diambil dari satu premis,sedangkan untuk penarikan kesimpulan tidak langsung dari dua premis.

Jenis-jenis Penalaran Deduktif  :
a)   Silogisme
Silogisme adalah suatu proses penalaran yang menghubungkan dua proposisi (pernyataan) yang berlainan untuk menurunkan sebuah kesimpulan yang merupakan proposisi yang ketiga. Proposisi merupakan pernyataan yang dapat dibuktikan kebenarannya atau dapat ditolak karena kesalahan yang terkandung didalamnya.Silogisme terdiri atas tiga bagian yakni: premis mayor, premis minor, dan kesimpulan. Yang dimaksud dengan premis adalah proposisi yang menjadi dasar bagi argumentasi. Premis mayor mengandung term mayor dari silogisme, merupakan geeralisasi atau proposisis yang dianggap bear bagi semua unsur atau anggota kelas tertentu. Premis minor mengandung term minor atau tengah dari silogisme, berisi proposisi yang mengidentifikasi atau menuntuk sebuah kasus atau peristiwa khusus sebagai anggota dari kelas itu. Kesimpulan adalah proposisi yang menyatakan bahwa apa yang berlaku bagi seluruh kelas, akan berlaku pula bagi anggota-anggotanya.


 Bentuk silogisme :
·      Silogisme Kategorial
Silogisme kategorial adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan kategorial. Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat dibedakan menjadi premis mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan premis minor ( premis yang termnya menjadi subjek). Yang menghubungkan di antara kedua premis tersebut adalah term penengah (middle term).
Contoh:
Premis 1 : Semua tumbuhan membutuhkan air. (Premis Mayor)
Premis 2 : Akasia adalah tumbuhan (premis minor).
Konklusi  :Akasia membutuhkan air (Konklusi)

·      Silogisme Hipotesis 
Silogisme hipotetik adalah argumen yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik, sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorik.
Ada 4 (empat) macam tipe silogisme hipotetik:
a)    Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian antecedent.
Contoh:
     Premis 1 : Jika hujan saya naik becak.(mayor)
Premis 2 : Sekarang hujan.(minor)
Konklusi  : Saya naik becak (konklusi).
b)   Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian konsekuennya.
Contoh:
     Premis 1 : Jika hujan, bumi akan basah (mayor).
    Premis 2 : Sekarang bumi telah basah (minor).
     Konklusi  : Hujan telah turun (konklusi)
c)    Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari antecedent.
Contoh:
Premis1         : Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa, maka kegelisahan akan timbul.
Premis 2        : Politik pemerintahan tidak dilaksanakan dengan paksa.
Konklusi       : Kegelisahan tidak akan timbul.
d)   Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari bagian konsekuennya.
Contoh:
Premis 1 : Bila mahasiswa turun ke jalanan, pihak penguasa akan gelisah.
Premis 2 : Pihak penguasa tidak gelisah.
Konklusi  : Mahasiswa tidak turun ke jalanan.

·      Silogisme Alternatif
Silogisme alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Kesimpulannya akan menolak alternatif yang lain.
Contoh:
Premis 1 : Nenek Sumi berada di Bandung atau Bogor.
Premis 2 : Nenek Sumi berada di Bandung.
Jadi, Nenek Sumi tidak berada di Bogor.

·         Entinem
Entinem adalah suatu proses penalaran dengan menghilangkan bagian silogisme yang dianggap telah dipahami.
Misalnya :
Berangkat dari bentuk silogisme secara lengkap:
Premis mayor : Semua renternir adalah penghisap darah dari orang yang sedang kesusahan
Premis minor : Pak Sastro adalah renternir
Kesimpulan : Jadi, Pak Sastro adalah peghisap darah orang yang kesusahan.

Kalau proses penalaran itu dirubah dalam bentuk entinem, maka bunyinya hanya menjadi ”Pak Sastro adalah renternir, yang menghisap darah orang yang sedang kesusahan.”

2.    Penulisan Induktif
v  Pengertian Paragraf Induktif
Paragraf induktif adalah salah satu jenis paragraf yang memiliki fungsi untuk menerangkan atau memaparkan suatu pokok bahasan atau masalah dengan pola penulisan dari khusus ke umum. Maksud dari pernyataan pola penulisan khusus ke umum adalah paragraf ini akan memberikan informasi, keterangan atau fakta rinci atau yang lebih sempit lingkupnya terlebih dahulu baru kemudian dengan cermat memberikan keterangan yang lebih umum atau simpulan pokok bahasan di akhir paragraf.
Jenis paragraf ini dikenal juga dengan paragraf yang memiliki kalimat utama di akhir paragraf. Banyak referensi kebahasaan yang mengatakan hal serupa, namun informasi umum yang dimasuk kan di akhir paragraf tersebut tentunya tidak hanya berbentuk sebuah kalimat, ide pokok tersebut juga bisa terbagi dalam lebih dari satu kalimat utuh. Jadi untuk memahami jenis paragraf ini, anda harus memandangnya secara keseluruhan.
Terkadang pola dari jenis paragraf ini juga akan menampilkan keterangan atau ide pokok pada awal paragraf. Jadi susunan lengkapnya  akan menjadi umum-khusus-umum. Dan yang wajib dipahami adalah ide pokok yang terdapat di awal paragraf hanyalah menjadi pembuka untuk memberikan gambaran apa yang akan dibahas dalam paragraf tersebut. Selebihnya akan ditegaskan kembali di akhir paragraf.

v Ciri-ciri Paragraf Induktif
Secara umum kita bisa melhat ciri-ciri dari jenis paragraf induktif,  yaitu sebagai berikut:
a.       Adanya keterangan, informasi atau ide yang bersifat khusus pada awal dan pertengahan paragraf. Biasanya keterangan tersebut terdapat dalam jumlah yang cukup banyak disertai dengan pendukung lain seperti fakta fakta tertaik.
b.      Adanya keterangan, informasi atau ide yang bersifat umum di akhir paragraf. Namun terkadang juga ditemukan hal serupa di awal paragraf untuk memperkenalkan bahasan dari paragraf tersebut.
c.       Adanya penguat di akhir paragraf yang menunjukkan simpulan dari paragraf tersebut.

v Pengertian Penalaran Induktif
Penalaran induktif adalah penalaran yang mengambil contoh-contoh khusus yang khas untuk kemudian diambil kesimpulan yang lebih umum. penalaran ini memudahkan untuk memetakan suatu masalah sehingga dapat dipakai dalam masalah lain yang serupa. catatan bagaimana penalaran induktif ini bekerja adalah, meski premis-premis yang diangkat benar dan cara penarikan kesimpulannya sah, kesimpulannya belum tentu benar. tapi kesimpulan tersebut mempunyai peluang untuk benar. 
Jenis – Jenis penalaran Induktif :
1.      Generalisasi
Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari sejumlah gejala atau peristiwa yang serupa untuk menarik kesimpulan mengenai semua atau sebagian dari gejala atau peristiwa itu. Generalisasi diturunka dari gejala-gejala khusus yang diperoleh melalui pengalaman, observasi, wawancara, atau studi dokumentasi. Sumbernya dapat berupa dokumen, statistik, kesaksian, pendapat ahli, peristiwa-peristiwa politik, sosial ekonomi atau hukum. Dari berbagai gejala atau peristiwa khusus itu, orang membentuk opini, sikap, penilaian, keyakinan atau perasaan tertentu.
Beberapa contoh penalaran induktif dengan cara generalisasi adalah sebagai berikut:
a)      Berdasarkan pengalaman, seorang ibu dapat membedakan atau menyimpulkan arti tangisan bayinya, sebagai ungkapan rasa lapar atau haus, sakit atau tidak nyaman.
b)      Berdasarkan pengamatannya, seorang ilmuwan menemukan bahwa kambing, sapi, onta, kerbau, kucing, harimau, gajah, rusa, kera adalah binatang menyusui. Hewan-hewan itu menghasilkan turunannya melalui kelahiran. Dari temuannya itu, ia membuat generalisasi bahwa semua binatang menyusui mereproduksi turunannya melalui kelahiran.

2.      Hipoteses dan Teori
Hipotese adalah semacam teori atau kesimpulan yang diterima sementara waktu untuk menerangkan fakta-fakta tertentu dalam penuntuk dalam penelitian fakta lebih lanjut. Sebaliknya teori merupakan hipotese yang relatif lebih kuat sifatnya bila dibandingkan dengan hipotese. Teori adalah azas yang umum dan abstrak yang diterima secara ilmiah dan sekurang-kurangnya dapat dipercaya untuk menerangkan fenomena-fenomena yang ada. Hipotese merupakan suatu dugaan yang bersifat sementara mengenai sebab-sebab atau relasi fenomena-fenomena, sedangkan teori merupakan hipotese yang telah diuji dan dapat diterapkan pada fenomena yang relevan atau sejenis.
Untuk merumuskan hipotese yang baik perhatikan ketentuan berikut:
a)      Memperhitungkan semua evidensi yang ada
b)      Bila tidak ada alasan lain, maka antara dua hipotesa yang mungkin diturunkan, lebih baik memilih hipotesa yang sederhanan daripada yang rumit.
c)      Sebuah hipotese tidak pernah terpisah dari semua pengetahuan dan pengalaman manusia
d)     Hipotese buka hanya menjelaskan fakta-fakta yang membentuknya,tetapi harus menjelaskan fakta-faktasejenis yang belum diselidiki.

3.      Analogi
Penalaran Analogi adalah proses penyimpulan berdasarkan kesamaan data atau fakta. Analogidapat juga dikatakan sebagai proses membandingkan dari dua hal yang berlainan berdasarkankesamaannya, kemudian berdasarkan kesamaannya itu ditarik suatu kesimpulan.Tujuan penalaran secara analogi adalah sebagai berikut:
a)      Analogi dilakukan untuk meramalkan kesamaan.
b)      Analogi dilakukan untuk menyingkapkan kekeliruan.
c)      Analogi digunakan untuk menyusun klasifikasi.
Contoh :
Seseorang yang menuntut ilmu sama halnya dengan mendaki gunung. Sewaktu mendaki, ada saja rintangan seperti jalan yang licin yang membuat seseorang jatuh. Ada pula semak belukar yang sukar dilalui. Dapatkah seseorang melaluinya? Begitu pula bila menuntut ilmu,seseorang akan mengalami rintangan seperti kesulitan ekonomi, kesulitan memahami pelajaran,dan sebagainya. Apakah Dia sanggup melaluinya? Jadi, menuntut ilmu sama halnya denganmendaki gunung untuk mencapai puncaknya.
4.      Hubungan Kausal (Sebab Akibat)
Hubungan kausal adalah penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang salingberhubungan. Hal ini terlihat ketika tombol ditekan yang akibatnya bel berbunyi. Dalamkehidupan kita sehari-hari, hubungan kausal ini sering kita temukan. Hujan turun dan jalan-jalanbecek. Ia kena penyakit kanker darah dan meninggal dunia. Dalam kaitannya dengan hubungan kausal ini, tiga hubungan antar masalah yaitu sebagai berikut:
a)      Sebab akibat
Sebab akibat ini berpola A menyebabkan B. Disamping ini pola seperti ini juga dapatmenyebabkan B, C, D dan seterusnya. Jadi, efek dari suatu peristiwa yang diaanggap penyebabkadang-kadang lebih dari satu. Dalam kaitannya dengan hubungan kausal ini, diperlukankemampuan penalaran seseorang untuk mendapatkan simpulan penalaran. Hal ini akan terlihatpada suatu penyebab yang tidak jelas terhadap suatu akibat yang nyata.Contoh :Belajar menurut pandangantradisional adalah usaha untuk memperoleh sejumlh ilmupengetahuan. ‘Pengetahuan´ mendapat tekanan yang penting, oleh sebab pengetahuanmemegang peranan utama dalam kehidupan manusia. Pengetahuan adalah kekuasaan. Siapa yang memiliki pengetahuan, ia mendapat kekuasaan.
b)      Akibat sebab
Akibat sebab ini dapat kita lihat pada peristiwa seseorang yang pergi ke dokter. Kedokter merupakan akibat dan sakit merupakan sebab. Jadi hampir mirip dengan entimen. Akan tetapidalam penalaran jenis akibat sebab ini, Peristiwa sebab merupaka simpulan.Contoh : Dewasa ini kenakalan remaja sudah menjurus ke tingkat kriminal. Remaja tidak hanya terlibat dalam perkelahian-perkelahian biasa, tetapi sudah berani menggunakan senjata tajam.Remaja yang telah kecanduan obat-obat terlarang tidak segan-segan merampok bahkan membunuh. Hal ini selain disebabkan kurangnya perhatian dari orang tua dan pengaruhmasyarakat, pengaruh televisi dan film cukup besar.
c)      Akibat-akibat
Akibat-akibat adalah suatu penalaran yang menyiratkan penyebabnya. Peristiwa “akibat” langsung disimpulkan pada suatu akibat yang lain. Contoh : Ketika pulang dari pasar, Ibu Sonya melihat tanah di halamannya becek, ibu langsung menyimpulkan bahwa kain jemuran di belakang rumahnya pasti basah. Dalam kasus itu penyebabnya tidak ditampilkan yaitu hari hujan.
5.      Induksi dalam metode Eksposisi
Sebagai telah dikemukakan diatas, untuk menetapkan apakah data informasi yang kita peroleh itu merupakan fakta, maka harus diadakan penelitian, apaka data dan informasi itu merupakan kenyataan atau yang sungguh-sungguh terjadi. Pada tahap selanjutnya pengarang atau penulis perlu mengadakan penilaian selanjutnya, guna memperkuat fakta yang akan digunakan sehingga memperkuat kesimpulan yang akan diambil. Dengan kata lain, perlu diadakannya seleksi untuk menentukan fakta mana yang akan dijadikan evidensi.
a)      Konsistensi
Dasar pertama yang dapat dipakai untuk menetapkan fakta mana yang akan digunakan sebagai evidensi adalah kekonsistenan. Sebuah argumentasi akan kuat dan mempunyai tenaga persuasif yang tinggi, kalau evidensi-evidensinya bersifat konsisten,  tidak ada satu evidensi bertentangan atau melemahkan evidensi lainnya.
b)      Koheresi
Dasar kedua yang dapat dipakai untuk mengadakan penelitian fakta yang dapat dipergunakan sebagai evidensi adalah masalah koherensi. Semua fakta yang akan digunakan sebagai evidensi harus koheren dengan pengalaman-pengalaman manusia, atau sesuai dengan sikap yang berlaku. Penulis harus dapat meyakinkan para pembaca untuk dapat setuju, atau menerima fakta-fakta dan jalan pikiran yang kemukakannya, maka secara konsekuen pula pembaca harus menerima hal lain, yaitu konklusinya.

v  Contoh Paragraf Induktif
Berikut ini contoh paragraf induktif dengan tema pendidikan:
Kesempatan mendapatkan pendidikan diharapkan akan semakin maju kedepan. Pemerintah telah mencanangkan cukup banyak program terkait dengan peningkatan mutu dan juga kualitas dari pendidikan di Indonesia. Diantaranya adalah program sekolah gratis. Program tersebut merupakan langkah nyata yang diharapkan bisa mengatasi problematika dunia pendidikan. Tidak akan ada alasan bagi siswa untuk kesulitan mendapat pendidikan yang layak. Tidak hanya itu, kini telah banyak juga bantuan beasiswa yang bisa menjadi alternatif lain mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Para siswa baik dengan ekonomi yang kurang memadahi atau pun siswa dengan prestasi membanggakan mendapatkan perhatian yang sama besarnya. Dan pastinya, dengan semua usaha bersama tersebut, tujuan pemerintah untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan akan dapat tercapai dengan baik.

from : http://imazshare.wordpress.com/  
          http://ajengnurfitriani.blogspot.com/




Konsep Bahasa Menurut Para Ahli

Konsep Bahasa Menurut Mackey 1986:12

Pengertian Bahasa Menurut Mackey:  Bahasa adalah suatu bentuk dan bukan suatu keadaan (lenguage may be form and not matter) atau sesuatu sistem lambang bunyi yang arbitrer, atau juga suatu sistem dari sekian banyak sistem-sistem, suatu sistem dari suatu tatanan atau suatu tatanan dalam sistem-sistem.

Menurut Mackey bahasa adalah sistem yang berarti memiliki sebuah proses dalam pengerjaannya. Kata arbitrer diatas adalah tidak adanya hubungan langsung yang bersifat wajib antara lambang dengan yang dilambangkannya. Dengan kata lain, hubungan antara bahasa dan wujud bendanya hanya didasarkan pada kesepakatan antara penurut bahasa di dalam masyarakat di sebuah Negara yang bersangkutan. Kesepakatan tersebut juga bisa terajadi diantara masyarakat pengguna bahasa disaerah tertentu. Misalnya, lambang bahasa yang berwujud bunyi ayam dengan artiannya yaitu seekor binatang berkaki dua yang biasa diternak, tidak ada hubungannya sama sekali, tidak ada ciri alamiahnya sedikit pun.
Definisi bahasa yang disampaikan Mackey sangatlah kompleks. Ia memberikan pandangan atau anggapan bahwa kata- kata sebagai penanda tidak memiliki hubungan dengan objek, tetapi berdasarkan kebiasaan, kesepakatan atau persetujuan masyarakat yang didahului pembentukan secara kelompok.
Menurut Mackey, Bahasa juga sebagai sebuah sistem yang merupakan suatu susunan teratur dan berpola yang membentuk sesuatu yang bermakna atau berfungsi. Ia terdiri dari unsur-unsur atau komponen-komponen yang secara teratur menurut pola tertentu, dan membentuk satu kesatuan. Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkannya bersifat arbiter, tetapi penerimaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu yang bersifat konfensional. Artinya semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konfensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya.



Program Sederhana Tabulasi



Program ini saya dapatkan dari searching juga. Program ini adalah program sederhana tentang pembuata tab tanpa menggunakan form GUI. Kelas yang digunakan bersifat public dengan mengimport kelas javax.swing.*. untuk lebih jelasnya kita dapat melihat gambar.





kita menggunakan beberapa atribut untuk membuat panel di keluarannya nanti, yaitu 











kode JTabbedPaned tab digunakan untuk menampung panel sedangkan kode setelahnya digunakan untuk label penanda.
setelah pendeklarasian atribut yang digunakan, kita membuat sebuah konstruktor yaitu ContohTab ().

kode diatas digunakan untuk frame setting yang kelasnya diambil dari kelas JFrame. kode pada baris ke dua digunakan sebagai besaran panel yang akan kita buat.yaitu besaran panjang,tinggi. kode setelanya digunakan untuk action exit ketika diklik. sedangkan kode yang paling bawah berfungsi sebagai tempat keluarnya window ketika di run (berada di tengah).
kode diatas digunakan sebagai frame setting dengan penginisialisasian label dengan nama yang kita inginkan. langkah selanjutnya adalah konfigurasi layout ke panel.
setelah konfigurasi kosong pada awal keluaran, kita memberikan inisialisasi bada tab yang akan kita buat, setelah itu kita set tata letak dari tab kita, yaitu sekitar (10,10,200,30). setelah setting selesai, kita masukan panel kedalam tab dengan koding "tab.add("Home",tab_home);. setelah selesai, kita masukan tab kedalam frame. dengan koding



setelah itu, langkah terakhir adalah pemanggilan kembali kelas yang kita buat dengan kode

maka ketika dirun, hasil yang akan keluar adalah



untuk source codenya bisa di klik disini http://www.4shared.com/rar/9oMqwiWu/ContohTab.html?














MANAJEMEN RESIKO


Manajemen Resiko Dalam Dunia Perbankan di bidang E-Banking

Manajemen risiko adalah suatu pendekatan terstruktur/metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman; suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk: Penilaian risiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya dan mitigasi risiko dengan menggunakan pemberdayaan/pengelolaan sumberdaya. Strategi yang dapat diambil antara lain adalah memindahkan risiko kepada pihak lain, menghindari risiko, mengurangi efek negatif risiko, dan menampung sebagian atau semua konsekuensi risiko tertentu. Manajemen risiko tradisional terfokus pada risiko-risiko yang timbul oleh penyebab fisik atau legal (seperti bencana alam atau kebakaran, kematian, serta tuntutan hukum. Manajemen risiko keuangan, di sisi lain, terfokus pada risiko yang dapat dikelola dengan menggunakan instrumen-instrumen keuangan.
Sasaran dari pelaksanaan manajemen risiko adalah untuk mengurangi risiko yang berbeda-beda yang berkaitan dengan bidang yang telah dipilih pada tingkat yang dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini dapat berupa berbagai jenis ancaman yang disebabkan oleh lingkungan, teknologi, manusia, organisasi dan politik. Di sisi lain pelaksanaan manajemen risiko melibatkan segala cara yang tersedia bagi manusia, khususnya, bagi entitas manajemen risiko (manusia, staff, dan organisasi).
Berikut ini adalah beberapa pengertian manajemen resiko menurut para ahli :
·         Pengertian manajemen resiko menurut Djohanputro (2008;43) Manajemen resiko merupakan proses terstruktur dan sistematis dalam mengidentifikasi, mengukur, memetakan, mengembangkan alternatif penanganan resiko, dan memonitor dan mengendalikan penanganan resiko.
·         Pengertian manajemen resiko menurut Smith (1990) Manajemen Resiko didefinisikan sebagai proses identifikasi, pengukuran, dan kontrol keuangan dari sebuah resiko yang mengancam aset dan penghasilan dari sebuah perusahaan atau proyek yang dapat menimbulkan kerusakan atau kerugian pada perusahaan tersebut.
·         Pengertian manajemen risiko menurut Australia/New Zealand Standards (1999), manajemen risiko merupakan suatu proses yang logis dan sistematis dalam mengidentifikasi, menganalisa, mengevaluasi, mengendalikan, mengawasi, dan mengkomunikasikan risiko yang berhubungan dengan segala aktivitas, fungsi atau proses dengan tujuan perusahaan mampu meminimasi kerugian dan memaksimumkan kesempatan. Implementasi dari manajemen risiko ini membantu perusahaan dalam mengidentifikasi risiko sejak awal dan membantu membuat keputusan untuk mengatasi risiko tersebut.
·         Pengertian manajemen resiko menurut Clough and Sears (1994) Manajemen risiko didefinisikan sebagai suatu pendekatan yang komprehensif untuk menangani semua kejadian yang menimbulkan kerugian.
·         Pengertian manajemen resiko dalam (Noshworthy, 2000:600), adalah implementation of measures aimed at reducing the likelihood of those threats occurring and minimising any damage if they do; Risk analysis and risk control form the basis of risk management where risk control is the application of suitable controls to gain a balance between security, usability and cost.
(identifikasi dari ancaman dan implementasi dari pengukuran yang ditujukan pada mengurangi kejadian ancaman tersebut dan menimalisasi setiap kerusakan”. ”Analisa risiko dan pengontrolan risiko membentuk dasar manajemen risiko dimana pengontrolan risiko adalah aplikasi dari pengelolaan yang cocok untuk memperoleh keseimbangan antara keamanan, penggunaan dan biaya)
·         Pengertian manajemen resiko menurut William, et.al.,1995,p.27 Manajemen risiko juga merupakan suatu aplikasi dari manajemen umum yang mencoba untuk mengidentifikasi, mengukur, dan menangani sebab dan akibat dari ketidakpastian pada sebuah organisasi.
·         Pengertian manajemen resiko menurut NIST (Stoneburner et al.,2001:E-2), controlling and mitigating information sysytem related risks; encompasses risk assesment; cost-benefit analysis; implementation, test and security evalution of safeguards. (manajemen risiko adalah proses dari ”mengidentifikasi, mengontrol dan meringankan sistem informasi terkait risiko” dan melingkupi pengkajian risiko, analisa manfaat biaya, dan pemilihan, implementasi, pengetesan dan evaluasi keamanan dari usaha perlindungan”.)

Penggunaan IT untuk Perbankan

Operasional kegiatan usaha Bank termasuk pemrosesan transaksi dan pembukuan sangat tergantung pada keandalan Teknologi Informasi (TI). Informasi yang dihasilkan sangat dibutuhkan dalam pengambilan keputusan baik oleh pihak intern Bank maupun pihak ekstern. Untuk itu TI harus dikelola secara efektif guna memaksimalkan efektifitas penggunaannya dan agar risiko terkait dari teknologi yang diimplementasikan dapat dimitigasi.
Mengingat bahwa TI merupakan aset penting dalam operasional yang dapat meningkatkan nilai tambah dan daya saing Bank sementara dalam penyelenggaraannya mengandung berbagai risiko, maka Bank perlu menerapkan IT Governance. Penerapan IT Governance dilakukan melalui penyelarasan Rencana Strategis teknologi Informasi dengan strategi bisnis Bank, optimalisasi pengelolaan sumber daya, pemanfaatan teknologi Informasi (IT value delivery), pengukuran kinerja dan penerapan manajemen risiko yang efektif. Keberhasilan penerapan IT Governance sangat tergantung pada komitmen dewan komisaris dan direksi serta seluruh satuan kerja di Bank, baik penyelenggara maupun pengguna TI. Sehubungan dengan hal itu diperlukan kebijakan yang memuat peran dan tanggung jawab dewan komisaris, direksi dan pejabat tertinggi TI dalam memastikan diterapkannya manajemen risiko TI secara efektif.
Peran TI dalam bidang perbankan sudah terbukti dapat meningkatkan kemampuan bank dalam memberikan layanan kepada nasabah. Pemrosesan data secara on-line dan real time telah mempercepat proses transaksi nasabah. Penggunaan alat pembayaran menggunakan kartu , misalnya kartu ATM, telah memudahkan nasabah bank melakukan transaksi sendiri dan cepat. Kini, para nasabah tidak perlu lagi pergi ke bank untuk melakukan transfer uang tunai.  Cukup dengan menggunakan ATM, nasabah dapat melakukan transfer uang ke rekening pada bank yang sama ataupun ke rekening pada bank yang lain. Selain itu, dalam berbelanja, layanan auto debet melalui kartu ATM telah memudahkan nasabah saat berbelanja. Dengan layanan ini, nasabah tidak perlu lagi membawa sejumlah uang tunai. Dengan menggunakan ATM, nasabah dapat membayar secara tunai tanpa menggunakan uang secara fisik. Penggunaan kartu ATM hanyalah salah satu contoh pemanfaatan TI pada layanan perbankan.
Selain manfaat yang diperoleh, penggunaan TI juga membawa risiko pada bank. Kegagalan pemrosesan transaksi, permasalahan jaringan komunikasi, dan ketidak-akuratan data adalah beberapa contoh permasalahan dalam penggunaan TI disamping permasalahan-permasalahan lainnya yang memungkinkan terjadinya risiko-risiko perbankan. Risiko-risiko yang potensial terjadi pada penyelenggaraan TI oleh bank antara lain risiko operasional, reputasi, risiko hukum, dan risiko-risiko perbankan lainnya.
Peraturan Bank Indonesia (PBI) nomor 9/15/PBI/2007 merupakan peraturan tentang penerapan manajemen risiko dalam penggunaan Teknologi Informasi (TI) oleh Bank Umum. Salah satu hal penting yang dicantumkan di dalam PBI tersebut adalah kewajiban bank untuk melaksanakan pengendalian dan audit intern atas penyelenggaraan TI. Dalam PBI tersebut dinyatakan bahwa bank wajib melaksanakan pengendalian intern secara efektif terhadap semua aspek penggunaan TI.
Mengacu pada PBI nomor 9/15/PBI/2007 tersebut, ruang lingkup audit penggunaan TI oleh bank dapat didefinisikan, dan minimal meliputi :
1.        Manajemen TI.
2.        Pengembangan dan pengadaan sistem / teknologi informasi.
3.        Operasional TI.
4.       Jaringan komunikasi.
5.        Pengamanan informasi.
6.       Business continuity plan.
7.        End user computing.
8.       Electronic banking.
9.       Penggunaan layanan oleh penyedia jasa TI.

Tujuan Audit Manajemen TI
Pelaksanaan audit terhadap manajemen TI bertujuan untuk memastikan bahwa pengelolaan sumber daya informasi (data dan informasi, teknologi, sumber daya manusia, fasilitas, dan organisasi) ditangani dengan baik oleh bank sehingga dapat mendukung dan mendorong proses pertumbuhan bisnis bank.
 Tujuan Audit Pengembangan dan pengadaan sistem / teknologi informasi
Audit terhadap pengembangan dan pengadaan sistem / teknologi informasi bertujuan untuk memastikan bahwa prosedur dan standar baku yang terkait dengan hal ini dilakukan oleh bank, yang bertujuan untuk mengefektifkan akuisisi TI dan meminimalkan risiko-risiko yang dapat mempengaruhi aktivitas bisnis bank.
Tujuan Audit Operasional TI
Audit terhadap operasional TI untuk memastikan bahwa bank menerapkan prosedur-prosedur pengoperasian TI secara konsisten untuk memperoleh manfaat dalam hal terjaganya layanan-layanan TI, efektivitas pembiayaan, mengurangi terjadinya gangguan terhadap aktivitas bisnis, dan meningkatkan kepercayaan nasabah.
Tujuan Audit Jaringan Komunikasi
Audit terhadap pengelolaan jaringan komunikasi bertujuan untuk memastikan bahwa layanan ini dilakukan secara memadai dan meningkatkan efisiensi biaya, layanan yang berkesinambungan, memenuhi kebutuhan bisnis, dan meningkatkan kepercayaan nasabah.
Tujuan Audit Pengamanan Informasi
Audit terhadap pengamanan informasi ditujukan untuk memastikan bahwa bank melakukan pengelolaan keamanan informasi sebagai aset bisnis yang penting. Manfaat yang diperoleh dengan menjaga keamanan sistem adalah meminimalkan jumlah kejadian yang menimbulkan kerugian bagi publik, pelaporan yang cepat atas terjadinya insiden, kesesuaian antara hak akses dengan tanggung jawab organisasi, berkurangnya jumlah keterlambatan akibat permasalahan keamanan, berkurangnya jumlah insiden yang berasal dari akses tanpa ijin, dan kehilangan informasi.
Tujuan Audit Business Continuity Plan
Audit terhadap business continuity plan (BCP) ditujukan untuk memastikan bahwa bank melakukan analisis terhadap risiko-risiko bisnis yang memadai untuk menghasilkan langkah-langkah strategis dan taktis guna menjaga kesinambungan bisnis. Kesinambungan bisnis yang didukung oleh penggunaan sistem dan teknologi informasi, perlu dibarengi juga dengan kesinambungan TI.
Tujuan Audit End User Computing
Audit terhadap end user computing ditujukan untuk memastikan bahwa pengendalian terhadap proses komputasi yang dilakukan oleh pengguna memperhatikan dan menerapkan aspek keamanan informasi, mengefektifkan biaya pemeliharaan, dan meningkatkan kesesuaian sistem dengan kebutuhan bisnis bank.
Tujuan Audit Electronic Banking
Audit terhadap layanan electronic banking dilakukan untuk memastikan bahwa pengendalian layanan ini memadai terhadap praktik penyelenggaraan electronic banking yang efektif, aman dan meningkatkan kepercayaan serta kepuasan nasabah bank.
Tujuan Audit Penggunaan Layanan Oleh Pihak Penyedia Jasa TI
Audit terhadap penggunaan layanan oleh pihak penyedia jasa TI dilakukan untuk memastikan bahwa bank menerima manfaat, antara lain, berupa pembiayaan yang efektif, terjaminnya kesinambungan layanan, dan meningkatkan reputasi bank.

Struktur tata kelola manajemen risiko Bank yang kuat menjadi dasar evaluasi keseimbangan antara risiko dan tingkat pengembalian untuk menghasilkan pendapatan yang berkesinambungan, mengurangi fluktuasi pendapatan serta meningkatkan nilai bagi pemegang saham.
Kerangka Manajemen Risiko Bank meliputi identifikasi yang mendalam terhadap Risk Management Objective dan Risk Appetite, berlangsungnya Risk Management Process yang berkesinambungan dan tersedianya Risk Infrastructure yang memadai serta terciptanya Risk Environment yang mendukung. Mari kita bahas satu persatu.
Yang pertama, Risk management Objective, tujuan Bank adalah pengalokasian modal secara efisien guna mendapatkan keuntungan yang optimal dan mengurangi kejutan kejutan ( surprises). Metode yang Bank gunakan adalah memilih aktiva produktif maupun kegiatan-kegiatan bank yang dapat terukur secara efektif dalam kerangka risiko risk and return yang disesuaikan dengan kultur perusahaan, kemampuan modal, organisasi dan infrastrukturnya. Sangat penting bagi Bank untuk memahami masalah-masalah bisnis dan investasi di mana Bank melakukan investasi sehingga Bank dapat mengumpulkan data dan informasi serta melakukan sensitivity analysis, baik atas faktor faktor internal dan eksternal terhadap pendapatan sebelum memutuskan melakukan investasi.
Yang kedua istilah Risk Appetite bergantung pada kemampuan kita untuk mengantisipasi dan mengukur besaran risiko. Dengan menggunakan batasan-batasan ( limits), Bank dapat memastikan seluruh risiko telah terdiversifikasi dengan baik dan seluruh portofolio tersebar dengan baik pula, sesuai dengan target pasar kita dan memenuhi seluruh proses transaksi, kebijakan serta prosedur.
Yang ketiga untuk Risk Management Process Bank memenuhi arahan Basel II Accord, Manajemen Risiko dikelola berdasarkan tahapan-tahapan yang sistematis sebagai berikut: 
1.        Risk awareness 
2.       Risk identification
3.       Risk monitoring
4.      Risk mitigation
Bank harus mempunyai risk library, Control Risk Self Assessment (CRSA) maupun business self-assessment, metode metode pengukuran risiko, scenario analysis, sistem deteksi dini, contingency plan serta sistem pelaporan manajemen yang memadai. Risk awareness dilakukan melalui sosialisasi yang intensif, lokakarya dan pelatihan yang berkesinambungan untuk membangun risk culture bagi seluruh karyawan.
Keempat , Risk Management Infrastructure menggambarkan dengan jelas peranan masing-masing dalam organisasi guna menjalankan fungsi Manajemen Risiko, kebijakan dan prosedur untuk mengkomunikasikan aspek-aspek penting dari proses-proses, metodologi untuk memperkirakan besarnya potensi kerugian, sistem analisis serta laporan yang tepat waktu.
Kelima adalah Risk Environment meliputi pengembangan kultur yang sesuai yang mendukung pendekatan risiko yang tepat, komunikasi yang tepat mengenai manfaat manajemen risiko, pelatihan untuk memastikan bahwa organisasi mengikuti teknik yang terbaru dan hubungan antara pengambilan risiko, penilaian kinerja dan kompensasi untuk menekankan tanggung jawab pada tingkat perorangan.

Pengertian Internet Banking

Menurut sumber situs internet saya menemukan pengertian internet banking adalah pemanfaatan tekhnologi internet, sebagai media untuk melakukan transaksi yang berhubungan dengan transaksi perbankan. Kegiatan ini menggunakan jaringan internet, sebagai perantara atau penghubung antara nasabah bank dan pihak bank. Selain itu, bentuk trasaksi yang dilakukan pun bersifat maya, atau tanpa memerlukan proses tatap muka antara nasabah dan petugas bank yang bersangkutan.
Dari pengertian internet banking diatas, maka sedikit dapat ditambahkan bahwa internet banking merupakan sebuah proses transaksi perbankan yang sudah berubah dari yang bersifat konvensional menjadi digital. Transaksi konvensional adalah sebuah transaksi yang memerlukan interaksi secara langsung antara nasabah dan petugas bank.
Jika dengan melakukan transkasi bank secara konvensional dibutuhkan adanya kontak fisik antara pihak bank dengan nasabah, maka ketika menggunakan transaksi digital hal tersebut sudah tidak berlaku lagi. Untuk melakukan transaski bank secara digital, maka aksi komunikasi yang terjalin hanya melalui komunikasi tertulis dengan perantara internet.

Resiko E-Banking dan Manajemen resikonya

Internet banking meningkatkan risiko strategik, risiko operasional termasuk risiko
keamanan dan risiko hukum serta risiko reputasi. Pihak bank harus melakukan indentifikasi, melakukan pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko dengan prinsip kehati-hatian.
Berdasarkan hal tersebut, prinsip manajemen risiko internet banking dibagi dalam tiga bagian yaitu pengawasan aktif komisaris dan direksi Bank, pengendalian pengamanan, serta manajemen risiko hukum
dan risiko reputasi sebagai berikut
A.      Pengawasan Aktif Komisaris dan Direksi Bank
Komisaris dan Direksi Bank bertanggung jawab dalam melakukan pengembangan strategi bisnis dan pengawasan manajemen yang efektif terhadap risiko atas penyelenggaraan internet banking. Pengawasan ini didasarkan pada kebijakan tertulis secara normatif yang ditetapkan komisaris dan direksi bank.
B.      Pengendalian Pengamanan
Hal ini dikarenakan risiko pengamanan yang meningkat akibat dari aktivitas internet banking. Oleh karena itu, perbankan perlu melakukan pengujian identitas nasabah, pengujian keaslian transaksi, penerapan prinsip pemisahan tugas, pengendalian terhadap penggunaan hak akses terhadap sistem, dan perlindungan terhadap integritas data maupun kerahasiaan informasi penting pada internet banking.
C.      Manajemen Risiko Hukum dan Risiko Reputasi
Untuk mengatasi risiko hukum dan risiko reputasi pelayanan jasa internet banking dilaksanakan konsisten dan tepat waktu sesuai dengan harapan nasabah. Agar dapat memenuhi harapan nasabah, perbankan harus memiliki kapasitas, kontinuitas usaha dan perencanaan darurat yang efektif.